#4
Kapal melempar sauh ke pelabuhan, teriakan Maghamir masih belum putus dari pita suaranya, ia memanggil Husein yang telah siap berdiri menyambut kedatangan kapal milik Maghamir. Juni berada tepat di sebelah Husein. Dan para pengawal kerajaan yang jumlahnya tak seberapa juga telah menunggu kedatangan Kapten Kapal yang kalau bisa dibilang tak ada serius-seriusnya, kecuali masalah pelayaran. Maghamir memang bukan tipikal orang yang serius, tingkahnya tak jauh-jauh dari sifat seorang bajak laut. Kadang licik, kadang terlalu jujur dan juga kadang tak memiliki tujuan yang pasti. Namun, Faul, seorang Mualim kapal yang umurnya terpaut jauh dari Maghamir, adalah seorang karakter yang cocok bila bekerja sama dengan kapten kapal. Ia orang serius, jarang bercanda dan temperamen. Sekali waktu, para kelasi malah menganggap Faul sebagai kapten kapal, tapi Faul tidak menyukai hal itu. Baginya, seorang kapten tetaplah seorang kapten. Ia bersedia mengabdi pada orang yang telah ditetapkan pangkatnya secara formal. Dan ia pun tak mempermasalahkan sifat Maghamir, karena memang Maghamir kadangkala sangat pantas disebut kapten. Lagipula, Maghamirlah yang pernah menyelamat awak kapal dari sergapan Portugeh, meski memakai Teknik melarikan diri sekalipun.
“Ahh … Saudaraku. Lama tak jumpa” Seru Maghamir si pria berkumis dan berjanggut tebal dengan posisi ingin memeluk Husein. Namun, setelah dipeluk.
“Sudah berapa hari kau belum mandi?” Kata Husein dengan menggerakkan kepala menjauh dari tubuh Maghamir, lubang hidung yang mengembang, dahi yang kusut.
“Belum lama, paling tiga bulan.” Sambil melepaskan pelukan dan memelintir kumis. Husein mengusap wajah, dengan tujuan menghilangkan bau. “Kau mau lihat isi kapal yang telah aku perbaiki di China? Kau pasti penasaran.” Sambung Maghamir sembari mendorong badan Husein ke dalam kapal. Sementara Juni mengikuti mereka.
“Hei, kau orang asing! Tunggu disini! Hanya sahabatku yang boleh menikmati kapal ini untuk pertama kalinya.” Tunjuk Maghamir ke tanah Pelabuhan.
“Dia juga akan berangkat bersama kita.” Kata Husein.
“Meskipun begitu, kau tetap harus menunggu disini, tunggu giliranmu, Anak Muda!”
Terlihat interior kapal yang baru dipoles di setiap sudut. Beberapa corak bercampur motif China. Terdapat motif bunga kenanga di buritan kapal, motif khas mereka kampung mereka. Beberapa perlengkapan senjata yang tak begitu banyak berjejer di sisi kapal. Lembaran layar dan tali yang begitu baru, juga kemudi kapal berbahan seumantok yang dibawa dari kampung halaman mereka. Meski awalnya orang China kewalahan mengolah kayu keras itu.
Sepasang sahabat itu masuk ke ruang Maghamir. Sementara di dalam, Faul tengah sibuk menggoreskan pena di meja kerjanya. Maghamir mengecek rak gulungan di ruangannya dan mengambil salah satu gulungan untuk diperlihatkan kepada Husein.
“Lihat ini! Kau pasti akan terkesan.” Kata Maghamir sambil membentangkan gulungan. Husein memperhatikan peta dengan seksama. “Peta ini buatan orang China, lihatlah! Mereka sampai menggambar Putri Duyung disini.” Sambung Maghamir sambil menunjuk peta.
“Ini sepertinya jalur baru, benar?” Tanya Husein.
“Ya, jalur yang kemungkinan kecil akan dilalui oleh Portugeh Laknatullah itu.” Jawab Maghamir sambil menggigit gigi.
Sementara Faul masih sibuk di mejanya. Husein bertanya.
“Sepertinya sibuk sekali. Apa yang sedang kau kerjakan, Faul?”
“Aku harus mengatur rute pengiriman lada yang akan dilakukan tiga tahun lagi.”
“Ayolah, itukan cuma tiga tahun lagi, kau seharusnya istirahat sebentar disini, mumpung sedang di kampung.” Rayu Maghamir.
Suara hantaman, dua tapak tangan mendarat ke atas meja. Sebuah hentakan keras.
“Jaga mulutmu, Orang Tua! Ini salah satu tugas terberatku, kau mau lada seberat 1.600 Kwintal melayang ke tangan para keparat itu?!” Ujar Faul kesal.
Maghamir dengan tak berdosanya malah melemparkan senyum kepada pemuda yang penuh semangat itu. Namun, Faul malah kembali melanjutkan tugasnya, mencatat rute dan memperkirakan cuaca untuk keberangkatan kapal pengangkut lada di Laut Merah.
“Saudaraku, mari keluar. Temani aku mengelilingi kampung yang harumnya bagaikan semerbak kenanga yang mekar di siang hari.” Ajak Maghamir.
Maghamir dan Husein keluar dari kapal, meninggalkan Faul yang lagi sibuk mengurus dokumen dan berkas untuk kapal pengangkut lada.
“Sebentar, dimana Juni?” Tanya Husein.
“Ntahlah, mungkin sedang di warung minum atau semacamnya.” Kata Maghamir dengan melihat-lihat sekitar.
Sementara tubuh mereka berlabuh ke daratan, sejumlah pengawal kerajaan telah menunggu kedatangan awak kapal Maghamir, menyambut mereka.
“Selamat datang, Tuan Maghamir. Sultan telah menanti kedatangan anda.”
“Baik, Aku ingin berjalan-jalan sebentar bersama sahabatku. Aku akan ke istana segera.” Jawab Maghamir.
Para pengawal kerajaan pergi. Maghamir merangkul Husein dan mengajaknya mengitari kampung.
“Di China banyak pencopet?” Tanya Husein basa-basi.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau akan menyamakan China dengan orang-orang pinggiran Gujarat?”
“Ah … Gujarat memang tempat yang rawan. Meski mereka kaya-kaya, tapi masih saja ada yang gemar mencopet.”
“Sepertinya mereka tidak begitu, teman.”
“Uangku hampir ludes dicuri mereka, bahkan mereka membuatku menjadi buronan. Mereka menjebakku sampai-sampai aku harus ganti nama.”
“Tapi, buktinya kau masih bertahan hingga sekarang, bukan?” Ujar Maghamir.
“Memang, namun untuk berangkat nanti, kita harus menyiapkan sesuatu agar mereka tak seenaknya mencuri uang kita.”
“Kau tak percaya dengan mereka?” Tanya Maghamir.
“Untuk apa percaya dengan sekelompok pencuri? Dunia akan rusak bila percaya dengan pencuri.”
“Kau yakin?”
“Kau masih ragu?”
“Bukan begitu, Sahabat. Di dunia yang rusak ini memang kita tak dapat mempercayai siapapun, tapi dunia akan semakin rusak bila semua orang tak saling percaya.” Kata Maghamir. “Kalau saja orang-orang China tak mempercayai kita, kepalaku pasti akan tinggal disana. Demi ibu yang sedang mengandung anak seorang pelaut, aku tak sudi bila kepalaku dipenggal oleh orang China. Peusoh!” Sambungnya.
Dua orang, dari jarak yang masih bisa dipandang, terlihat saling kejar-kejaran menuju Husein dan Maghamir. Tak asing, Murtala dan Murtada. Mereka mendekat.
“Cek, aku dengar kapal yang akan membawa kita ke Turki sudah tiba. Kau tak mau melihatnya?” Tanya Murtala kepada Husein.
“Iya, katanya kapal mereka sangat bagus dan baru.” Sahut Murtada.
“Hahahaha … kau lihat? Sudah kubilang kapal itu bagus.” Seru Maghamir kepada Husein.
“Kau sudah melihatnya, Tuan? Aku semakin tidak sabar ingin melihatnya.” Tanya Murtada kepada Maghamir.
Beberapa saat, pengawal istana lagi-lagi menghampiri Maghamir dan mengajaknya ke komplek kerajaan. Ia juga mengajak Husein untuk menemaninya. Saat berjalan menuju Keraton.
“Sebentar … “Kata Husein. Para pengawal dan Maghamir berhenti seketika.
“Kemana perginya Si Kembar? Tadi kan ada disini.”