#9
Pasar
Dari menara masjid, seorang muazin mengumandangkan azan, tepat saat waktu ashar tiba. Suasana meja Husein di kedai minuman yang tadinya mencekam akibat suara batuk Si Pelanggan, kini mulai agak tenang. Balutan tembakau milik Si Pelanggan kini ia timpa dan ia padamkan ke cawan kecil di atas meja. Sementara pelayan yang daritadi bolak-balik membawa air hangat kepada Si Pelanggan agar batuk yang melandanya mereda, kini sudah memasuki gelas keempat, lalu air hangat ia teguk berkali-kali dan masuk ke dalam mulut si pelanggan secara bergantian. Si Pelanggan mulai terasa lega.
“Tenang … tenang …, jangan panik dan terburu-buru begitu.” Seru Husein sambil mengusap-usap punggung Si Pelanggan.
Maghamir mencolek Husein, menggelengkan kepala ke arah jalan, tanda untuk segera bergegas kembali ke kapal.
“Kau tak apa-apa kami tinggali sendirian disini, kan?” Ucap Tahir. “Kami harus kembali ke kapal untuk menangani beberapa urusan.” Sambungnya.
Karena tak sanggup bicara akibat asap yang bikin dadanya perih, Si Pelanggan mempersilahkan mereka pergi dengan aba-aba tangan kanan ke atas, sementara tangan kiri mengelus dada.
Tahir memanggil pelayan. Setelah pelayan memperkirakan jumlah uang yang harus mereka keluarkan sesuai pesanan. Tahir mengeluarkan beberapa koin mata uang Gujarat yang ia tukar saat mengurus izin bersama Faul. Si Pelanggan juga mengeluarkan uang dari sakunya.
“Tidak. Tidak. Biar aku saja yang menyelesaikan semua perkara ini.” Seru Tahir sambil menepis tangan Si Pelanggan yang akan memberikan uang.
“Kubha … Kubha … Dhan’yavāda, Mitra.” Ucap Si Pelanggan kepada Tahir dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tepat ke hadapan Tahir.
Maghamir kembali mencolek Husein, menunjuk arah jalan dengan kepalanya. Husein berdiri. Pelayan mengangkut gelas minuman mereka, kecuali gelas Si Pelanggan, dan membawa gelas itu kembali ke dapur. Tangan Husein meraih pundak Tahir, mengajaknya untuk bergegas pergi. Saat bayang-bayang tubuh mereka meninggalkan kedai, Si Pelanggan, kaget, lupa menanyakan nama mereka. Karena mereka bertiga pun tak saling menyebutkan nama saat berbincang.
Sementara di tengah perjalanan menuju kapal. Tahir kembali dipusingkan dengan reaksi dari Si Pelanggan yang mengucapkan terima kasih, namun ia menggelengkan kepalanya.
“Hei, Husein. Apakah kau menyadarinya? Pria itu mengucapkan terima kasih kepadaku. Tapi ia menggelengkan kepalanya.”
Sedikit tersenyum, Husein menjelaskan.
“Orang-orang di sini, kalau sudah menggelengkan kepalanya tepat di depanmu itu berarti dia sangat menghargaimu.”
Suara tertawa Maghamir kembali terdengar.
“Kau ingat wajahnya saat tersedak. Oh … Demi kabut dan badai di tengah laut, itu sungguh menghibur diriku.” Ucap Maghamir sambil tertawa.
Tapak kaki mereka kini telah menginjaki kapal. Sementara sisa gaharu yang tinggal dua batang lagi akan dikirim ke pasar. Tahir menghampiri Faul.
“Sudah semua?”
“Kita sedang menunggu kereta kuda angkutan. Mereka akan kembali ketika selesai memuatnya ke pasar.” Sahut Faul. “Untuk menghemat, kita hanya sanggup menyewa dua kereta. Itupun sudah cukup menurutku.” Sambung Faul yang berdiri di tengah-tengah kapal sambil menyalin catatan dagang.
Maghamir tanpa aba-aba apapun langsung terbaring dan terlelap di bawah tiang utama kapal miliknya. Sementara Husein pergi ke ruangannya untuk beristirahat. Namun tidak untuk tidur, karena menurutnya, tidur usai waktu ashar menjelang magrib akan membuat kita pusing dan kehilangan arah. Ia beberapa kali pernah mengalami kejadian itu. Namun baginya, tidur setelah ashar bukanlah pilihan yang tepat. Jae, teman dekatnya di kampung juga menganggap bahwa tidur menjelang magrib akan membuat kita menjadi langgoe.
“Kau melihat Juni?” Tanya Faul kepada Tahir.
“Ah, Si Langgoe itu. Aku yakin saat ini dia pasti sedang asyik berjudi dan mabuk-mabukan.” Jawab Tahir.
Sisa kayu terakhir dimuat ke dalam kereta. Faul menutup salinannya.
“Nanti malam, biar aku saja yang memeriksa apakah barang sampai ke pedagang. Kau silahkan beristirahat dan menyiapkan berkas-berkas kita untuk pamit dari sini. Besok siang, kita akan menuju ke Madaghaskari.” Ucap Faul. Tahir mengangguk.
Langit mulai memerah, cahaya matahari kian menghilang sedikit demi sedikit hingga yang tersisa hanyalah bayang-bayang tubuh manusia yang juga memantulkan cahaya merah dari matahari. Kawanan burung bangau terbang membentuk formasi segitiga melintasi pelabuhan dengan tujuan akhir adalah pulang. Beberapa kelasi Maghamir yang tak bertugas mengantarkan gaharu terlihat membersihkan badan di tepi Pelabuhan. Dan beberapanya lagi membersihkan kapal. Namun kelasi Ali melihat kejadian janggal di dek bawah, air dalam gentong yang digunakan untuk berwudhu terlihat kotor dan tergenang bekas sabun di dalamnya.
“Hei! Siapa yang memakai gentong ini untuk mandi?” Ujar kelasi Ali mengarah ke kelasi-kelasi yang mandi di tepi pelabuhan. “Kau pikir gentong ini punya bibimu, bisa kau pakai seenaknya untuk mandi?” Sambung kelasi Ali marah.
Kelasi-kelasi yang mandi di tepi Pelabuhan dibuat heran dengan murkanya kelasi Ali. Mereka tak berani menjawabnya. Karena dari semua awak kapal, kelasi Ali terbilang paling tua di antara mereka. Umurnya pun lima tahun lebih tua dari Maghamir sendiri. Karena alasan umur, tak ada yang berani membantah kelasi Ali selain Faul dan Maghamir. Namun sejauh ini, belum ada sama sekali pertikaian yang terjadi antara Faul, Maghamir dan Kelasi Ali. Entah karena menghormati yang lebih tua, atau -kita semua menyadari- kelakuan Maghamir yang tidak tertarik mendengar orang cerewet.
Kelasi Ali memanggil salah satu kelasi yang selesai mandi agar membantunya mengangkat air bersih untuk diisi ke dalam gentong. Pun terdengar azan magrib dari arah Pelabuhan. Kelasi Ali menaiki kapal. Kembali memeriksa gentong air bersih yang digunakan untuk berwudhu yang berada di dek bawah.
“Kalau saja kedapatan seseorang yang mandi menggunakan air suci ini, akan kupotong tangannya menggunakan parangku. Saat itu juga!” Seru Kelasi Ali.
Husein yang turun ke dek bawah untuk berwudhu mendengar ocehan Ali.
“Ada apa, Cek?” Tanya Husein kepada Ali. Sementara Ali dengan memegang parang yang tersemat di pinggangnya berjalan menuju dek atas.
“Kalau kau melihat seseorang yang mandi menggunakan air ini. Beritahu aku. Akan kupotong tangannya. Saat itu juga!”
Husein yang pura-pura tidak tahu sontak menjawab “iya” kepada Ali. Saat Ali sudah agak menjauh, ia raba tangannya.
Waktu Isya …
Setelah menyantap makanan di dalam kapal, Faul mengajak Husein karena alasan ia sedikit memahami bahasa India dan Arab saat ke pasar demi memeriksa gaharu. Faul juga mengajak salah seorang kelasi yang hafal lokasi tempat ia mengantar gaharu tersebut. Tahir melihat Maghamir yang masih tertidur pulas dan melewatkan makan malam juga ikut ke pasar menggantikan Maghamir.
“Biar aku saja yang menggantikannya.” Ujar Tahir sambil menunjuk Maghamir dengan dagunya.
Seorang kelasi yang diajak Faul mengatakan bahwa semua gaharu telah diborong oleh saudagar Arab untuk dijual ke pasar. Dan ia memiliki lapak yang begitu besar.
“Syukurlah. Kalau brgitu kita hanya perlu mampir ke lapaknya saja.” Jawab Faul.
Mereka berempat melangkahkan kakinya turun dari kapal. Kelasi Nurdin yang diajak Faul kini memandu perjalanan ke lapak pedagang yang berasal dari daratan Arab tersebut, ia bernama Asnawi bin Hasanul Kubra. Seorang pemilik kereta kuda yang sempat mengantarkan gaharu ke pasar dari kapal Maghamir sangat akrab dengannya. Saking akrabnya, pemilik kereta kuda itu memanggil Asnawi dengan panggilan Wannawi. Dan Wannawi pun mengatakan hasil penjualan gaharu akan diberikan esok pagi, beliau menjamin bahwa kumpulan kayu gaharu itu akan laku dalam satu malam. Kalaupun ada yang masih tersisa, ia akan memberikan kompensasi pada orang-orang Maghamir agar mereka bisa berangkat dari Gujarat dengan tenang tanpa harus memikirkan kerugian yang menimpa mereka.
Setelah mampir ke lapak Wannawi dan dijamu dengan beberapa cemilan di lapaknya. Faul, Tahir dan Husein berniat mengelilingi pasar. Melihat kemeriahan sekitar pasar yang dipenuhi gemerlap cahaya dari lentera-lentera. Bahkan malam itu, bintang-bintang yang bersinar di lapisan langit masih kalah saing dengan hiruk-pikuk kemeriahan pasar. Suara senandung Kawali menggema seantero pasar. Suara senandung itu berasal dari sudut masjid yang berada di tengah-tengah pasar. Kelasi Nurdin, yang merasa begitu nyaman dengan suasana pasar serta gemerlapnya, meminta kepada Faul agar mengizinkan dirinya untuk menikmati pasar dari lapak Wannawi. Karena ia juga merasa bahwa tugasnya untuk mengantarkan Tuan Faul ke lapak Wannawi sudah selesai. Dan Faul mengizinkannya.
Saat mereka bertiga mengelilingi pasar, seorang nenek yang berpenampilan seperti ibu-ibu rumah tangga pada umumnya, menjual karpet dan kain tradisional. Lapak nenek itu menarik perhatian Husein. Ia menawarkan beberapa karpet dengan harga murah. Husein yang sebenarnya tidak niat membeli sedikit merasa iba melihat seorang nenek-nenek sendirian menjual dagangannya di pasar apalagi pada malam hari. Saat tangan Husein menyentuh selembar kain yang bergelantungan di lapak milik wanita tua itu. Tangan nenek itu dengan tiba-tiba meraih tangan Husein dan melihat telapak tangannya. Melihat garis tangan. Nenek itu terkejut.
“Nak, kau akan mengalami kemenangan besar! Apakah kau seorang prajurit atau semacamnya?” Ramal nenek itu.
Faul dan Tahir dibuat canggung oleh tingkah nenek itu seketika siaga dan mengira bahwa Husein akan dirampok oleh seorang nenek-nenek. Gujarat adalah salah satu tempat perdagangan paling sibuk di dunia, wajar bila banyak perampok dan pencuri, karena habitat pencuri ialah di tempat dimana uang mengalir deras, sederas air bah yang mencari muara ke lautan. Sementara Husein yang dari lahir tidak pernah percaya tahayul, melepaskan tangannya dari genggaman nenek itu. Husein juga mengingat meskipun di kampungnya banyak orang yang percaya rajah dan ramalan, namun semua perbuatan itu tidaklah dapat dibuktikan begitu kuat.
“Apa kalian tega mencurigai seorang wanita tua yang sedang mencari rezeki dengan halal akan melakukan perampokan pada kalian?” Ucap nenek itu.
Faul dan Tahir kini mulai agak tenang setelah mendengar si nenek. Meskipun batin mereka masih diselimuti sedikit curiga pada si pedagang wanita tua itu.
“Duduklah kemari, kalian pasti orang yang berasal jauh dari sini dan kalian sepertinya sedang mempersiapkan sebuah kemenangan besar.” Ajak nenek itu kepada Faul, Tahir dan Husein.
Sambil merapikan selembar kain yang berantakan akibat reaksi reflek dari Husein. Nenek itu kembali berbicara.
“Kalian tahu? Selama ini aku hanya duduk di rumahku dan melihat orang-orang terbunuh tepat di depan mataku.” Ucap si nenek.
Sekelompok prajurit Gujarat yang mengenakan seragam perang yang dipenuhi kaligrafi di bajunya berpatroli di sekitaran pasar.
“Aku tak tahu darimana asalnya para pembunuh itu, yang aku ingat, mereka tidak menggunakan bahasa Gujarat. Mereka juga jauh dari sini. Sedangkan orang-orang yang mereka bunuh juga bukan karena dendam atau kemarahan. Mereka semua adalah korban yang terlilit hutang.”
Tahir yang daritadi mendengar perkataan nenek itu akhirnya dibuat bimbang.
“Kau ini pedagang atau seorang peramal?” Tanya Tahir.
“Tidak keduanya, Aku hanya manusia biasa. Seperti kalian. Hanya saja umurku kuhabisi di daerah ini.”
Seseorang datang ke lapak nenek itu, membawa bekal makanan untuk si nenek.
“Ibu … Aku membawakan makanan untuk …” Pria itu masuk ke dalam lapak si nenek dan melihat sekumpulan orang asing yang duduk di tengah-tengah nenek itu.
“Hei, bukankah kalian berdua yang aku temui di warung minuman tadi siang?” Ujar si pelanggan yang Tahir dan Husein temui di warung minuman saat siang. “Kemana perginya teman kalian yang tak henti-henti tertawa itu?” Sambungnya.
Nenek itu sontak tertawa dan memotong pembicaraan. “Kalian sudah saling kenal?” Dan mengira mereka telah lama akrab. “Perkenalkan. Ini anakku. Nay namanya.”
“Iya, ini ibuku. Panggil saja Nani.” Ucap Nay.
Nay bercerita pada ibunya bahwa Husein dan temannya telah berbaik hati padanya dengan menraktir anaknya saat di warung minuman. Faul, Tahir dan Husein memperkenalkan diri mereka. Nani bersyukur mengira anaknya berteman dengan orang-orang baik. Dengan rasa terima kasih, Nani dan Nay mengajak mereka bermalam di rumah mereka. Setelah Tahir menerjemahkan perkataan Nani dan Nay kepada Faul. Raut wajah Faul seperti tampak tidak menyetujuinya. Bukan karena curiga, namun Faul berencana esok pagi Tahir harus berjumpa dengan seorang pejabat yang menjaga perbatasan Gujarat untuk mengurus berkas mereka saat ingin meninggalkan Gujarat. Begitu pula dengan Husein, ia tidak berniat membuat Nay dan Nani kerepotan. Nay tak dapat memaksa.
“Baiklah kalau begitu, izinkan aku mengantar kalian dari pelabuhan besok. Anggap saja sebagai rasa bahagiaku karena pernah memiliki teman seperti kalian.” Ucap Nay.
Sekelompok tentara bergerombolan berdatangan ke lapak Nani. Dengan sopannya, salah satu dari prajurit itu menyapa Nay dan melaporkan kondisi pasar pada Nay. Nay yang tak ingin membuat Husein dan teman-temannya curiga, karena juga akan membuat suasana merasa tidak nyaman, Nay mengajak prajurit itu agak menjauh dari lapak Nani.
“Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan besok?” Ucap Nay.
Sementara … Suasana di Kapal …
Maghamir terbangun setelah tertidur lelap di tengah-tengah kapal. Melempar gelas kotor yang berada di sampingnya kepada salah satu kelasi.
“Hei! Kau disana, kenapa kau diam saja?! Kita sudah terlambat satu hari. Kembangkan layar! Cepat!!!” Ujar Maghamir.
“Bukankah Tuan Faul berkata seharusnya besok siang kita berangkat, Tuan?” Jawab Kelasi.
“Apanya yang besok pagi?!”
Bersambung …